Kamis, 01 September 2016

17.48

Agen Poker Online - Belakangan ini nama 'Mukidi' begitu tenar di media sosial maupun di grup aplikasi pesan instan, Whatsapp. Sebenarnya siapa sih dia?



Jika dilihat dari namanya, mungkin orang menebak kalau Mukidi adalah orang dari desa. Tapi sebenarnya nama Mukidi sendiri adalah tokoh ciptaan seseorang yang seringkali diceritakan dalam cerita-cerita humor.

Sosok Mukidi diciptakan oleh Soetantyo Moechlas (64) dari sosok imajinernya. Ia tak menyangka bahwa ciptaannya tersebut bisa begitu terkenal saat ini di media sosial.

Bahkan, rumah pria kelahiran Purwokerto ini yang sekarang menetap di kawasan Bekasi, terlihat sering didatangi para wartawan dan tamu. Laman Facebooknya pun kini ramai dicari pegiat sosial media.

"Nama Mukidi itu kan gampang diingat. Nama itu menggambarkan orang yang sederhana dan lugu, saya nemu saja nama ini. Tidak ada inspirasi dari sosok tertentu," katanya menjelaskan asal usul nama ciptaannya.


Ia menceritakan pertama kali menulis cerita humor tentang Mukidi di laman blognya pada tahun 2012. Kala itu Mukidi belum setenar seperti sekarang ini,Tidak banyak komentar maupun like saat itu.

Berikut beberapa contoh cerita humor Mukidi yang disukai banyak kalangan..


1. Mukidi Tanya Dokter Soal Kondom


Di ruang operasi rumah sakit, seorang dokter bedah melihat Mukidi yang akan dioperasi kelihatan gelisah. Untuk menenangkanny, Mukidi diajak bercanda.

Dokter : "Bapak tau cara membuat sarung tangan karet yang sedang saya pakai ini?"
Mukidi : "Tidak dok ..." jawab Mukidi sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Dokter : "Begini Pak.. Karet mentah direbus sampai meleleh lalu pegawai pabrik rame2 mencelupkan tangan ke dalam cairan karet itu. Setelah itu tangan segera diangin-anginkan.Tak lama kemudian jadilah sarungan tangan seperti ini."

Mukidi tersenyum mendengar penjelasan sang dokter. Beberapa saat kemudian Mukidi tertawa terpingkal-pingkal. Dokter heran dan bertanya :

Dokter : "Mengapa Anda tertawa seperti itu..?"
Mukidi : "Dengar cerita dokter tadi, saya lalu membayangkan bagaimana cara membuat kondom."

Dokter : ...........(bengong)


2. Mukidi Nyari Uang Kembalian


Cak Mukidi ke pasar, mau kulineran rujak cingur yang penjualnya ibu-ibu asal Madura bertubuh montok bernama Bu Markonah.

"Bu, rujak satu berapa?" tanya Cak Mukidi.

"Sepoloh rebu cak..," kata Bu Markonah.

Selesai dibungkus, Cak Mukidi bayar dengan uang Rp 20.000.

Bu Markonah bilang, "Cak... tangan saya lagi belepotan, kembaliannya ambil sendiri disini ya," katanya sambil menunjuk belahan dada atas.

Tanpa ragu-ragu Cak Mukidi merogoh karena orang Madura memang biasa menaruh segala macem disana pikirnya. "Nggak ada ..Bu" kata Cak Mukidi.

Bu Markonah kasih instruksi, "Lebih dalam lagi, terus..terus..ke kanan.. ke kiri."

Cak Mukidi, "Nggak ada.. Bu"

"Ya sudah," kata Bu Markonah.

"Lah terus mana kembalian saya????"tanya Cak Mukidi bingung.

Bu Markonah dengan enteng berkata, "Ongkos rogoh-rogoh sepoloh rebu Cak, sampeyan kira goh-rogoh nang njero kutang ku gratis?"

Mukidi hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir mendengar Bu Markonah.


3. Mukidi Naik Metromini


Mukidi yang asli Madura, sedang berlibur ke Jakarta. Dia ingin keliling Jakarta naik Metromini.

Diam-diam dia mengamati segala yang terjadi di dalam Metromini. Termasuk tingkah laku kernet dan penumpangnya.

Tak lama kemudian si kernet bilang, "Dirma..Dirman..Dirman..,"(tanda bahwa bus telah sampai di Jalan Sudirman)

Lalu seorang penumpang laki-laki teriak, "kiri..!" Dan turunlah penumpang tersebut.

Selang berapa lama kernet teriak, "Kartini..Kartini..Kartini.." Seorang cewek muda kemudian nyeletuk, "kiri..!" lalu cewek tersebut pun turun.

Beberapa lama kernet itu teriak lagi, "Wahidin..Wahidin..Wahidin.." Adalagi cowok yang bilang, "kiri..!"

Tak selang lama si kernet teriak lagi, Gatot Subroto!! Gatot Subroto!!

Seorang pemuda ganteng berkumis tebal menjawab, "kiri..kiri..!!" Maka turunlah si kumis itu.

Tinggallah seorang diri Mukidi di dalam bus. Dengan hati ngedumel, lama-lama jengkel juga dia. Lalu dicoleklah si kernet, dengan nada marah Mukidi bilang,

"Kurang ajar sampeyan ya. Dari tadi rang-orang sampeyan panggil. Lahh,, nama saya ndak sampeyan nggil-panggil!! Kalau begini caranya, kapan saya turun?!!"

Untung si kernet tanggap. Kernet bertanya, "Siapa nama bapak?"

"Namaku Mukidi," jawab Mukidi.

Si kernet langsung teriak, "Mukidi..Mukidi..Mukidi..!!"

Mukidi pun lega dan berkata, "Nah, begitu!!". "Kiri..!" Maka turunlah Mukidi di jalan tol.

Bagi Anda yang menemukan Mukidi harap menghubungi keluarganya di Sumenep.


4. Mukidi dan Pasangan Mesum


Mukidi punya kebiasaan jelek, yaitu suka ngintip orang yang sedang pacaran. Tempat favoritnya untuk mengintip adalah di atas pohon. Dimana di bawahnya sering digunakan untuk pacaran.

Seperti biasanya,malam itu Mukidi sudah stand by di atas pohon untuk mengintip. Dan benar saja tak berapa lama datang pasangan Kipot dan Kipit datang.

Karena dianggap sepi dan aman, Kipot dan Kipit akhirnya indehoi. Mukidi benar-benar menikmati tontonannya. Setelah indehoi, keduanya bercakap-cakap :

Kipit : "Pot, aku takut hamil."
Kipot : "Enggak mungkin hamil, kan baru sekali ini."

Kipit : "Tapi kata temenku bisa Pot, Bagaimana dong?"
Kipot : "Kalau bener hamil, ya kita serahkan saja sama yang di atas."

Tiba-tiba Mukidi turun dari pohon dan marah-marah..

"ENAK AJA LU, GUA CUMA NONTON, LU MINTA GUA TANGGUNG JAWAB, GAK BISAA!!!"


5. Mukidi Naik Unta Arab


Mukidi lagi melancong ke Arab, seperti orang Indonesia yang lainnya. Dia juga ikut tour naik unta. Tapi unta di Arab tidak seperti unta di Indonesia, ketika Mukidi bilang "duduk" dan unta langsung duduk.

Namun lain kejadiannya unta di Arab, walaupun Mukidi sudah bilang, "Duduk, sit.. sit, jongkok, duk." Sang unta tetap berdiri, dan akibatnya Mukidi tidak bisa naik.

Pawang Unta (PU) : "Bilang assalamualaikum, baru unta duduk."
Mukidi : "Assalamualaikum" langsung unta duduk, Mukidi naik, unta langsung berdiri lagi.

Mukidi : "Jalan.. jalan.." Unta tetap diam. Dipukul-pukul punggungnya, unta tetap tidak mau jalan.

PU : "Bilang bismillah"
Mukidi : "Bismillah" Unta jalan, Mukidi senang jalan naik unta dengan Pawang Unta berjalan di sampingnya.

Tak lama kemudian Mukidi bertanya, "Pawang, bagaimana cara nyuruh untanya lari ya?"

PU : "Bilang aja Alhamdulilah"
Mukidi : "Alhamdulilah" Dan untanya pun berlari.

Mukidi senang sekali. Saking senangnya Mukidi bilang lagi "Alhamdulilah". Dan si unta berlari tambah kencang, dan si Pawang unta makin ketinggalan.

Ketika Mukidi sudah jauh, si Pawang unta baru ingat belum memberitahu caranya unta berhenti. Dari jauh si pawang berteriak :

"Kalo mau berhenti bilang innalillahi.."

Karena sudah jauh Mukidi tidak mendengar. Dan si unta terus berlari dengan kencang. Sampai akhirnya di kejauhan Mukidi melihat di depan ada jurang.

Mukidi ketakutan, dan mencoba menghentikan unta. "Stop, stop, stooop, stoop, stooop, oop..!!"

Unta tetap berlari, jurang sudah terpampang di depan mata. "Mati gue!" kata Mukidi, tahu dia akan jatuh ke jurang dan mati.

Dalam kepanikannya dia berteriak, "Innalillahi..!!" sambil memejamkan mata pasrah. Unta mendadak berhenti.

Dan ketika Mukidi membuka mata, dia melihat persis di tepi jurang. Saking senangnya tidak jadi mati, Mukidi berteriak, "Alhamdullilah"

PLUNG!!! ....